Khutbah I
اَللهُ
أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ
أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً
وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ
وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ
وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ. الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ
الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ
عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ
الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ
خُلُقَهُ الْقُرْآنُ، أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ
لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ
Saudara-saudaraku yang dirahmati
Allah, Dalam suasana Hari Raya Idul Adha 1442 H yang diwarnai dengan
keterbatasan dan keprihatinan ini, marilah kita tetap menanamkan dalam diri
kita, keimanan dan ketakwaan pada Allah swt. Di
antara wujudnya adalah dengan senantiasa melakukan ikhtiar dan tawakkal pada
Allah swt dalam menjalani kehidupan ini sesuai dengan petunjuk-Nya. Kita harus
banyak belajar dan meneladani perjuangan keluarga Nabi Ibrahim as yang teguh
dalam berusaha dan menyerahkan semua hasilnya pada sang penentu yakni Allah
swt. Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Ali Imran 159:
فَاِذَا
عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Artinya: “Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad,
maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal
(berserah diri)”. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, Contoh keteladanan
berikhtiar dan tawakkal dari keluarga Nabi Ibrahim adalah seperti saat ia
menginginkan agar dikaruniai anak yang shaleh. Di umurnya yang semakin menua,
Nabi Ibrahim terus berusaha dan memanjatkan doa yang tertulis dalam Al-Qur’an
surat Ash-Shaffat ayat 100:
رَبِّ هَبْ
لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang
anak) yang termasuk orang-orang shaleh.” Berkat ketundukan total yang
diikuti dengan ikhtiar dan tawakkal yang gigih, akhirnya Allah swt pun
mengabulkan harapan Nabi Ibrahim dengan menganugerahkan seorang anak shaleh
yakni Nabi Ismail as. Namun, saudara-saudaraku yang diberkahi Allah,
Ketundukan Ibrahim kepada Allah pun terus diuji. Anak semata wayang yang sudah
dinanti-nantikannya sejak lama dan menjadi belahan hatinya diperintahkan oleh
Allah untuk dikurbankan. Setelah berdiskusi dengan Ismail as, akhirnya mereka
pun tak ragu untuk melakukannya karena keluarga ini memiliki kepatuhan yang
tinggi atas perintah Allah swt. Kepasrahan keluarga Ibrahim pada Allah ini
patut kita contoh dan kita wujudkan dalam keluarga kita. Keluarga Ibrahim
menyadari bahwa kepemilikan materi dunia ini hanyalah titipan saja. Dunia
menjadi ladang untuk menanam dan akan dipanen saat kita sudah berada di akhirat
kelak.
الدُّنْيَا
مَزْرَعَةُ الآخِرَةِ
Artinya: “Dunia adalah ladang akhirat” Kita juga perlu
sadari bahwa:
وَمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ
لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Artinya: “Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah
bermain-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik
bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An'am:
32)
Saudara-saudaraku yang diberkahi
Allah, Selain kepasrahan diri pada Allah melalui ikhtiar yang patut kita contoh
dari keluarga Nabi Ibrahim, kita juga bisa meneladani semangat pengorbanan
untuk mendekatkan diri pada Allah swt. Apalagi
di masa pandemi seperti saat ini di mana tetangga kita banyak yang terdampak
ekonominya akibat pandemi, sudah saatnya kita harus berkorban membantu mereka.
Kita berharap nikmat rezeki yang kita terima dari Allah, dan dibagikan melalui
hewan kurban, akan dapat membantu mereka. Kita perlu camkan dalam diri
kita firman Allah Surat Al-Kautsar ayat 1-2:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ
وَانْحَرْ
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu
nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”
Saudara-saudaraku yang diberkahi Allah, Semoga kita bisa meneladani semangat
ikhtiar, tawakkal, sekaligus pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim as kemudian kita
wujudkan dalam keluarga kita. Amin
بَارَكَ الله
لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ
مِنْ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II