Senin, 12 Juli 2021

FIDYAH

Fidyah Menurut Madzhab Hanafi dan Tatacara Pelaksanaannya

Oleh 

UUF ROUF

 

Fidyah adalah menebus atau menambal apabila seseorang meninggalkan kewajibannya. Adapun kewajiban yang harus di fidyahi adalah shalat, puasa ramadhan, zakat fitrah dl. Jika tidak sempat mengqadha karena terputus oleh ajalnya, maka bagi ahli warisnya boleh melakukan salah satu dari dua; pertama mengqadhanya yang kedua menjalankan fidyah.

Menurut madzhab Syafi’I, fidyah ialah Qaul Dhoif dan menurut madzhab Syafi’I juga satu waktu shalat fardu harus mengeluarkan satu mud bahan makanan yang shah di pakai zakat fitrah seperti beras, tidak syah memakai uang atau emas dan pelaksanaan fidyahnya harus langsung diberikan kepada si fakir tidak boleh di kembalikan lagi.

Jadi kalau fidyah memakai madzhab Syafi’I terkadang susah payah jika banyak kewajiban apalagi untuk seumur hidup, oleh karena itu maka seyogyanya kita bermadzhab Hanafi yang membolehkan fidyah dengan selain beras, baik dengan uang ataupun emas yang nilainya seharga dengan beras yang wajib dikeluarkan walaupun dapat menghutang.

Menurut madzhab hanafi, dalam satu hari satu malam waktu shalat ada enam waktu ditambah dengan witir, dan fidyah dalam satu waktu shalat atau satu hari puasa ramadhan masing-masing setengah sha’ beras atau tiga pertiga mud sama dengan 520 dirham syar’I yang dipakai madzhab syafi’I (yakni satu sha’ madzhab syafi’I kurang dari dua pertiga mud, jadi sebaliknya di bulatkan menjadi 4 mud, bahkan lebih baik untuk ihtiyathi).

Adapun yang lebih utama menjalankan fidyah adalah seumur hidup si  mayit meskipun ia tidak pernah meninggalkan kewajiban.

Daftar perincian perhitungan banyaknya beras yang harus dikeluarkan dalam menjalankan fidyah sebagai berikut :

1.      Shalat fardu (satu waktu)                                   1 sha’               =  4 mud          =>  3 ¹/8 liter

2.      Puasa ramadhan (satu hari)                                1 sha’               =  4 mud          =>  3 ¹/8 liter

3.      Zakat                                                                 60 sha’             =  240 mud      =>  187 ½ liter

4.      Kifarat zima’                                                      60 sha’             =  240 mud      =>  187 ½ liter

5.      Kifarat qatl                                                        60 sha’             =  240 mud      =>  187 ½ liter

6.      Kifarat yamin                                                     10  sha’            =  40 mud        =>  31 ¼ liter

7.      Kifarat nadzar                                                    10  sha’            =  40 mud        =>  31 ¼ liter

Cara perhitungannya sbb :

·         1 hari         = 6 waktu x 3 ¹/8 liter = 18 ³/8 liter

·         1 bulan      = 30 hari x 18 ³/8 liter  = 562 ½  liter

·         1 tahun      = 12 bln x 562 ½  liter = 6750 liter

Umpamanya harga beras 1 liter Rp. 2000,- maka perhitungannya sebagai berikut :

·         6750 liter x Rp. 2000       = Rp. 13.500.000

Umpamanya harga emas 1 gram 70.000,- maka

·         Rp. 13.500.000  : Rp. 70.000      = 193 gram (banyaknya emas yang dapat menggugurkan keawajiban shalat selama satu tahun)

Jika mayit laki-laki harus dikurangi 12 tahun dari jumlah umurnya dan jika mayit perempuan dikurangi 9 tahun, maka sisa umurnya itulah yang di fidyahi.

Umpamanya si mayit berumur 52 tahun, kurangi 12 tahun sisa 40 tahun, maka dalam pelaksanaan fidyahnya si pemberi fidyah harusberputar memberikan shadaqah kifarat kepada 40 orang fakir menurut madzhab hanafi, adapun yang di sebut fakir menurut madzhab hanafi ialah orang yang tidak mampu mengluarkan nishab zakat fitrah, sebagaimana keterangannya berikut ini :

والفقير من لايملك نصاب لفطرة....(اه القول المختصر ص: 8 تألف العلامة الشيخ محمد صالح كمال الحنفى مفتى سادة الاحناف بمكة المكرمة)

Sedangkan di tiap-tiap kampung rata-rata orang itu mampu mengeluarkan zakat fitrah, kecuali santri yang fitrahnya masih di tangggung oleh orang tuanya, jadi apabila kita akan melakukan fidyah maka mengundanglah paling sedikit sepuluh santri/fakir, dengan 10 orang fakir ini kalau 4 kali putaran dapat menggugurkan 40 tahun kewajiban shalat, kemudian untuk kewajiban puasa ramadhan cukup kepada 2 orang fakir, dua seterusnya kewajiban yang lain.

Adapun untuk menggugurkan kifarat sumpah dan nadzar boleh sekalgus kepada fakir yang sepuluh tadi.

كما قال الامام محمد رحمه الله تعالى: يكفي ان تديرها مرة واحدة على العشرة...(اه القول المختصر ص: 7)

 

Lafad Ijab Qabul Fidyah :

1. ملكتك هذا المال عما فى الدمة (اتو) عن اسقاط مافى ذمة فلان بن فلانة من كفارة ترك الصلوات المفروضة

2. ملكتك هذا المال عن اسقاط مافى ذمة فلان بن فلانة من كفارة ترك صوم رمضان

3. ملكتك هذا المال عن اسقاط مافى ذمة فلان بن فلانة من كفارة ترك الزكاة

4. ملكتك هذا المال عن اسقاط مافى ذمة فلان بن فلانة من كفارة ترك غسل الواجب

5. ملكتك هذا المال عن اسقاط مافى ذمة فلان بن فلانة من كفارة ترك حقوق الله وحقوق الأدمى

6. يا معشر العشرة ملكتكم هذا المال عن اسقاط مافى ذمة فلان بن فلانة من الايمان والنذور

Jawaban bagi yang menerimanya :

قبلت هذا المال الحمد لله, ووهبتك هذا المال

 

Syarat orang yang menerima fidyah

1.      Yang menjalankan fidyah harus diberi wasiat oleh si mayit atau ahli warisnya atau wakilnya.

2.  Si fakir harus mempunyai I’tiqad kepunyaan sendiri setelah menerima harta (fidyah) kemudian di shadaqahkan kembali kepada yang menerima fidyah.

3.      Yang menerima fidyah harus sudah baligh 

KHUTBAH IDUH ADHA

 Khutbah I

 اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ. الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ، أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ

 

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, Dalam suasana Hari Raya Idul Adha 1442 H yang diwarnai dengan keterbatasan dan keprihatinan ini, marilah kita tetap menanamkan dalam diri kita, keimanan dan ketakwaan pada Allah swt. Di antara wujudnya adalah dengan senantiasa melakukan ikhtiar dan tawakkal pada Allah swt dalam menjalani kehidupan ini sesuai dengan petunjuk-Nya. Kita harus banyak belajar dan meneladani perjuangan keluarga Nabi Ibrahim as yang teguh dalam berusaha dan menyerahkan semua hasilnya pada sang penentu yakni Allah swt. Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Ali Imran 159:  

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya: “Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal (berserah diri)”. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, Contoh keteladanan berikhtiar dan tawakkal dari keluarga Nabi Ibrahim adalah seperti saat ia menginginkan agar dikaruniai anak yang shaleh. Di umurnya yang semakin menua, Nabi Ibrahim terus berusaha dan memanjatkan doa yang tertulis dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 100: 

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shaleh.”  Berkat ketundukan total yang diikuti dengan ikhtiar dan tawakkal yang gigih, akhirnya Allah swt pun mengabulkan harapan Nabi Ibrahim dengan menganugerahkan seorang anak shaleh yakni Nabi Ismail as.  Namun, saudara-saudaraku yang diberkahi Allah, Ketundukan Ibrahim kepada Allah pun terus diuji. Anak semata wayang yang sudah dinanti-nantikannya sejak lama dan menjadi belahan hatinya diperintahkan oleh Allah untuk dikurbankan. Setelah berdiskusi dengan Ismail as, akhirnya mereka pun tak ragu untuk melakukannya karena keluarga ini memiliki kepatuhan yang tinggi atas perintah Allah swt. Kepasrahan keluarga Ibrahim pada Allah ini patut kita contoh dan kita wujudkan dalam keluarga kita. Keluarga Ibrahim menyadari bahwa kepemilikan materi dunia ini hanyalah titipan saja. Dunia menjadi ladang untuk menanam dan akan dipanen saat kita sudah berada di akhirat kelak.

 الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الآخِرَةِ

Artinya: “Dunia adalah ladang akhirat” Kita juga perlu sadari bahwa:

 وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ 

Artinya: “Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah bermain-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An'am: 32) 

Saudara-saudaraku yang diberkahi Allah, Selain kepasrahan diri pada Allah melalui ikhtiar yang patut kita contoh dari keluarga Nabi Ibrahim, kita juga bisa meneladani semangat pengorbanan untuk mendekatkan diri pada Allah swt. Apalagi di masa pandemi seperti saat ini di mana tetangga kita banyak yang terdampak ekonominya akibat pandemi, sudah saatnya kita harus berkorban membantu mereka. Kita berharap nikmat rezeki yang kita terima dari Allah, dan dibagikan melalui hewan kurban, akan dapat membantu mereka.  Kita perlu camkan dalam diri kita firman Allah Surat Al-Kautsar ayat 1-2:

   إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ  

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” Saudara-saudaraku yang diberkahi Allah, Semoga kita bisa meneladani semangat ikhtiar, tawakkal, sekaligus pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim as kemudian kita wujudkan dalam keluarga kita. Amin

 بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم  

Khutbah II


   اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ . أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.  وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْن عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ . عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

writer
Aryanto
Kp. Babakan Cibeureum Ds. Cikatapis Kec. Kalanyar Kab. Lebak

Sumber :
NU Online 

PROPOSAL CLASS MEETING SON

  Pengertian Proposal Kegiatan Telah disebutkan di awal, proposal kegiatan adalah rencana yang dituliskan ke dalam sebuah rancangan kerja....