Selasa, 13 Juli 2021
Senin, 12 Juli 2021
FIDYAH
Fidyah Menurut Madzhab Hanafi dan Tatacara Pelaksanaannya
Oleh
UUF ROUF
Fidyah adalah menebus
atau menambal apabila seseorang meninggalkan kewajibannya. Adapun kewajiban
yang harus di fidyahi adalah shalat, puasa ramadhan, zakat fitrah dl. Jika tidak
sempat mengqadha karena terputus oleh ajalnya, maka bagi ahli warisnya boleh
melakukan salah satu dari dua; pertama mengqadhanya yang kedua menjalankan
fidyah.
Menurut madzhab
Syafi’I, fidyah ialah Qaul Dhoif dan menurut madzhab Syafi’I juga satu waktu
shalat fardu harus mengeluarkan satu mud bahan makanan yang shah di pakai zakat
fitrah seperti beras, tidak syah memakai uang atau emas dan pelaksanaan
fidyahnya harus langsung diberikan kepada si fakir tidak boleh di kembalikan
lagi.
Jadi kalau fidyah
memakai madzhab Syafi’I terkadang susah payah jika banyak kewajiban apalagi
untuk seumur hidup, oleh karena itu maka seyogyanya kita bermadzhab Hanafi yang
membolehkan fidyah dengan selain beras, baik dengan uang ataupun emas yang
nilainya seharga dengan beras yang wajib dikeluarkan walaupun dapat menghutang.
Menurut madzhab
hanafi, dalam satu hari satu malam waktu shalat ada enam waktu ditambah dengan
witir, dan fidyah dalam satu waktu shalat atau satu hari puasa ramadhan
masing-masing setengah sha’ beras atau tiga pertiga mud sama dengan 520 dirham
syar’I yang dipakai madzhab syafi’I (yakni satu sha’ madzhab syafi’I kurang
dari dua pertiga mud, jadi sebaliknya di bulatkan menjadi 4 mud, bahkan lebih
baik untuk ihtiyathi).
Adapun yang lebih
utama menjalankan fidyah adalah seumur hidup si mayit meskipun ia
tidak pernah meninggalkan kewajiban.
Daftar perincian
perhitungan banyaknya beras yang harus dikeluarkan dalam menjalankan fidyah
sebagai berikut :
1. Shalat fardu (satu waktu) 1
sha’ = 4
mud => 3 ¹/8 liter
2. Puasa ramadhan (satu
hari) 1
sha’ = 4
mud => 3 ¹/8 liter
3. Zakat 60
sha’ = 240
mud => 187 ½ liter
4. Kifarat
zima’ 60
sha’ = 240
mud => 187 ½ liter
5. Kifarat
qatl 60
sha’ = 240
mud => 187 ½ liter
6. Kifarat
yamin 10 sha’ = 40
mud => 31 ¼ liter
7. Kifarat
nadzar 10 sha’ = 40
mud => 31 ¼ liter
Cara perhitungannya sbb :
· 1
hari = 6 waktu x
3 ¹/8 liter = 18 ³/8 liter
· 1 bulan =
30 hari x 18 ³/8 liter = 562
½ liter
· 1 tahun =
12 bln x 562 ½ liter = 6750 liter
Umpamanya harga beras 1 liter Rp. 2000,- maka
perhitungannya sebagai berikut :
· 6750 liter x Rp.
2000 = Rp. 13.500.000
Umpamanya harga emas 1 gram 70.000,- maka
· Rp. 13.500.000 : Rp. 70.000 =
193 gram (banyaknya emas yang dapat menggugurkan keawajiban shalat selama satu
tahun)
Jika mayit laki-laki
harus dikurangi 12 tahun dari jumlah umurnya dan jika mayit perempuan dikurangi
9 tahun, maka sisa umurnya itulah yang di fidyahi.
Umpamanya si mayit
berumur 52 tahun, kurangi 12 tahun sisa 40 tahun, maka dalam pelaksanaan
fidyahnya si pemberi fidyah harusberputar memberikan shadaqah kifarat kepada 40
orang fakir menurut madzhab hanafi, adapun yang di sebut fakir menurut madzhab
hanafi ialah orang yang tidak mampu mengluarkan nishab zakat fitrah,
sebagaimana keterangannya berikut ini :
والفقير من لايملك نصاب لفطرة....(اه القول
المختصر ص: 8 تألف العلامة الشيخ محمد صالح كمال الحنفى مفتى سادة الاحناف بمكة
المكرمة)
Sedangkan di tiap-tiap
kampung rata-rata orang itu mampu mengeluarkan zakat fitrah, kecuali santri
yang fitrahnya masih di tangggung oleh orang tuanya, jadi apabila kita akan
melakukan fidyah maka mengundanglah paling sedikit sepuluh santri/fakir, dengan
10 orang fakir ini kalau 4 kali putaran dapat menggugurkan 40 tahun kewajiban
shalat, kemudian untuk kewajiban puasa ramadhan cukup kepada 2 orang fakir, dua
seterusnya kewajiban yang lain.
Adapun untuk menggugurkan kifarat sumpah dan
nadzar boleh sekalgus kepada fakir yang sepuluh tadi.
كما قال الامام محمد رحمه الله تعالى: يكفي ان
تديرها مرة واحدة على العشرة...(اه القول المختصر ص: 7)
Lafad Ijab Qabul Fidyah :
1. ملكتك هذا المال عما فى الدمة (اتو) عن اسقاط
مافى ذمة فلان بن فلانة من كفارة ترك الصلوات المفروضة
2. ملكتك هذا المال عن اسقاط مافى ذمة فلان بن
فلانة من كفارة ترك صوم رمضان
3. ملكتك هذا المال عن اسقاط مافى ذمة فلان بن
فلانة من كفارة ترك الزكاة
4. ملكتك هذا المال عن اسقاط مافى ذمة فلان بن
فلانة من كفارة ترك غسل الواجب
5. ملكتك هذا المال عن اسقاط مافى ذمة فلان بن
فلانة من كفارة ترك حقوق الله وحقوق الأدمى
6. يا معشر العشرة ملكتكم هذا المال عن اسقاط مافى ذمة فلان بن فلانة من الايمان والنذور
Jawaban bagi yang menerimanya :
قبلت هذا المال الحمد لله, ووهبتك هذا المال
Syarat orang yang menerima fidyah
1. Yang menjalankan fidyah harus diberi wasiat
oleh si mayit atau ahli warisnya atau wakilnya.
2. Si fakir harus mempunyai I’tiqad kepunyaan sendiri setelah
menerima harta (fidyah) kemudian di shadaqahkan kembali kepada yang menerima
fidyah.
3. Yang menerima fidyah harus sudah baligh
KHUTBAH IDUH ADHA
Khutbah I
اَللهُ
أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ
أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً
وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ
وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ
وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ. الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ
الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ
عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ
الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ
خُلُقَهُ الْقُرْآنُ، أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ
لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ
Saudara-saudaraku yang dirahmati
Allah, Dalam suasana Hari Raya Idul Adha 1442 H yang diwarnai dengan
keterbatasan dan keprihatinan ini, marilah kita tetap menanamkan dalam diri
kita, keimanan dan ketakwaan pada Allah swt. Di
antara wujudnya adalah dengan senantiasa melakukan ikhtiar dan tawakkal pada
Allah swt dalam menjalani kehidupan ini sesuai dengan petunjuk-Nya. Kita harus
banyak belajar dan meneladani perjuangan keluarga Nabi Ibrahim as yang teguh
dalam berusaha dan menyerahkan semua hasilnya pada sang penentu yakni Allah
swt. Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Ali Imran 159:
فَاِذَا
عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Artinya: “Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad,
maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal
(berserah diri)”. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, Contoh keteladanan
berikhtiar dan tawakkal dari keluarga Nabi Ibrahim adalah seperti saat ia
menginginkan agar dikaruniai anak yang shaleh. Di umurnya yang semakin menua,
Nabi Ibrahim terus berusaha dan memanjatkan doa yang tertulis dalam Al-Qur’an
surat Ash-Shaffat ayat 100:
رَبِّ هَبْ
لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang
anak) yang termasuk orang-orang shaleh.” Berkat ketundukan total yang
diikuti dengan ikhtiar dan tawakkal yang gigih, akhirnya Allah swt pun
mengabulkan harapan Nabi Ibrahim dengan menganugerahkan seorang anak shaleh
yakni Nabi Ismail as. Namun, saudara-saudaraku yang diberkahi Allah,
Ketundukan Ibrahim kepada Allah pun terus diuji. Anak semata wayang yang sudah
dinanti-nantikannya sejak lama dan menjadi belahan hatinya diperintahkan oleh
Allah untuk dikurbankan. Setelah berdiskusi dengan Ismail as, akhirnya mereka
pun tak ragu untuk melakukannya karena keluarga ini memiliki kepatuhan yang
tinggi atas perintah Allah swt. Kepasrahan keluarga Ibrahim pada Allah ini
patut kita contoh dan kita wujudkan dalam keluarga kita. Keluarga Ibrahim
menyadari bahwa kepemilikan materi dunia ini hanyalah titipan saja. Dunia
menjadi ladang untuk menanam dan akan dipanen saat kita sudah berada di akhirat
kelak.
الدُّنْيَا
مَزْرَعَةُ الآخِرَةِ
Artinya: “Dunia adalah ladang akhirat” Kita juga perlu
sadari bahwa:
وَمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ
لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Artinya: “Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah
bermain-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik
bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An'am:
32)
Saudara-saudaraku yang diberkahi
Allah, Selain kepasrahan diri pada Allah melalui ikhtiar yang patut kita contoh
dari keluarga Nabi Ibrahim, kita juga bisa meneladani semangat pengorbanan
untuk mendekatkan diri pada Allah swt. Apalagi
di masa pandemi seperti saat ini di mana tetangga kita banyak yang terdampak
ekonominya akibat pandemi, sudah saatnya kita harus berkorban membantu mereka.
Kita berharap nikmat rezeki yang kita terima dari Allah, dan dibagikan melalui
hewan kurban, akan dapat membantu mereka. Kita perlu camkan dalam diri
kita firman Allah Surat Al-Kautsar ayat 1-2:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ
وَانْحَرْ
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu
nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”
Saudara-saudaraku yang diberkahi Allah, Semoga kita bisa meneladani semangat
ikhtiar, tawakkal, sekaligus pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim as kemudian kita
wujudkan dalam keluarga kita. Amin
بَارَكَ الله
لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ
مِنْ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
PROPOSAL CLASS MEETING SON
Pengertian Proposal Kegiatan Telah disebutkan di awal, proposal kegiatan adalah rencana yang dituliskan ke dalam sebuah rancangan kerja....